Don't Let Your Flame Dim After “Who Am I?”
By Remy Hadinata
The “Who Am I?” workshop was a positive experience for you. Maybe it gave you new insights, a new milestone in your personal growth, or even felt like finding water in the desert. And all of this was shared with others, in a life-giving environment and a common search for further growth.
You went home with a deeper understanding of yourself and your personality, with newly discovered qualities that had been hidden inside you all along, and with motivation to live more in harmony with who you truly are. Your inner drive to fully be yourself felt strong.
But then… you returned to daily life.
Were you able to keep that inner drive after the session? Or did everyday routines and deadlines take over again? Maybe it was difficult for other people to understand your new insights, or you did not have enough time to develop what you discovered. Perhaps pressure from work or from your social environment made it harder. And slowly, without noticing it, the flame began to fade.
This happens, and it is not a failure. But it is important to be honest: there are things that can weaken the desire to grow if we are not aware of them.
1. Disconnection from Your Essential Self
When returning to daily life, busyness can make our minds very active again. Deadlines, targets, problems, social media — everything competes for our attention. In the middle of this chaos, the connection with our personal centres, especially the essential self, can begin to weaken without us noticing.
We no longer ask: “What am I feeling right now?” or “Is this aligned with who I really am?” Busyness covers awareness. Busyness is the enemy of silence, yet it is in silence that the flame is often felt most strongly.
2. Trying to Do It Alone (Without Support)
We want to continue our growth journey, but we try to do it alone. Without an educator accompanying us in a supportive relationship, without a group to share with, we rely only on willpower and ourselves. Yet changing old patterns of thinking is never easy to do alone. A small flame will quickly fade if we go through this process by ourselves.
3. Overthinking (Too Much Thinking, Too Little Feeling)
This is one of the most common challenges. After discovering so many treasures in the workshop, we may think: “Which one should I work on first? What is the priority? Am I choosing the wrong thing?”
Our minds keep spinning, searching for the perfect answer. But growth is never about perfection. Overthinking keeps us stuck in place, while the flame actually needs small steps forward — not endless thinking.
The good news: you don’t have to face these three winds alone. Just start with one or two small steps below.
7. Make
a conscious connection with your body
Each time you notice that you are out of yourself, no longer connected
with your inner strength, make a conscious connection with your body. Stand
firmly on the ground and feel your belly. It will help you shift your
functioning, your inner behaviour, and reconnect with your life energy again.
Disconnected, doing it alone, overthinking – these three are natural parts of the growth journey. Not because you are wrong. But because growth needs to be tended to.
And the good news: you don't have to tend to it alone.
The follow-up module "Keeping My Flame Alive" is specifically designed to help you:
- Rebuild connection with your essential self (countering disconnected)
- Practice together in a group with an educator's guidance (countering doing it alone)
- Focus on experience, not excessive analysis (countering overthinking)
Two sessions, 3 hours each. Not a big workshop. But a safe space to keep your flame from dying out.
If your flame is starting to feel dim – or if you simply want to learn how to tend it more consciously – this is an invitation for you.
Because your flame is precious. And you deserve to tend it together with others.
Next dates of “Keeping my flame alive” please check on Website of PRH
Indonesia
Jangan Biarkan Apimu Redup Setelah – “Siapa Saya?”
Oleh Remy Hadinata
Workshop “Who Am I?” adalah pengalaman yang baik bagimu. Mungkin memberimu wawasan baru, tonggak baru dalam pertumbuhan pribadimu, atau bahkan terasa seperti menemukan air di padang pasir.
Dan semua itu kamu alami bersama orang lain, dalam lingkungan yang menghidupkan serta pencarian bersama akan proses pertumbuhan kamu lebih lanjut.
Kamu pulang dengan pemahaman yang lebih dalam tentang dirimu dan kepribadianmu, dengan kualitas-kualitas yang baru kamu sadari dan selama ini tersembunyi di dalam dirimu, serta dengan motivasi untuk hidup lebih selaras dengan siapa dirimu sebenarnya. Dorongan batinmu untuk menjadi dirimu seutuhnya terasa kuat.
Tapi kemudian… kamu kembali ke kehidupan sehari-hari.
Apakah kamu mampu mempertahankan dorongan batin itu dalam keseharian? Atau rutinitas dan “deadline” kembali mengambil alih? Mungkin sulit bagi orang lain untuk memahami wawasan barumu, atau kamu tidak punya cukup waktu untuk mengembangkan apa yang telah kamu temukan. Mungkin tekanan dari pekerjaan atau lingkungan sosial membuat segalanya lebih sulit. Dan perlahan, tanpa kamu sadari, api mulai meredup.
Ini bisa terjadi, dan itu bukan berarti kegagalan. Tapi penting untuk jujur: ada hal-hal yang dapat melemahkan keinginan untuk bertumbuh jika kita tidak menyadarinya.
1. Terputus dari Diri mu yang terbaik.
Saat kembali ke kehidupan sehari-hari, kesibukan membuat pikiran kita sangat aktif lagi. Tenggat waktu, target, masalah, media sosial — semuanya berebut perhatian kita. Di tengah kekacauan ini, hubungan dengan pusat pribadi kita, terutama diri esensial, bisa mulai melemah tanpa kita sadari.
Kita tidak lagi bertanya: “Apa yang kurasakan saat ini?” atau “Apakah ini selaras dengan siapa aku sebenarnya?” Kesibukan menutupi kesadaran. Kesibukan adalah musuh dari keheningan, padahal di dalam keheningan itulah api sering kali paling terasa.
2. Mencoba Melakukannya Sendiri (Tanpa Dukungan)
Kita ingin melanjutkan perjalanan pertumbuhan, tapi kita mencoba melakukannya sendiri. Tanpa pendamping yang menemani dalam “helping relationahip”, tanpa kelompok untuk berbagi, kita hanya mengandalkan diri kita sendiri. Padahal mengubah pola pikir yang lama tidak pernah mudah dilakukan sendirian. Api yang kecil akan cepat padam jika kita melewati proses ini sendirian.
3. Terlalu Banyak Berpikir
Ini adalah salah satu tantangan paling umum. Setelah menemukan begitu banyak “harta karun” dalam workshop, kita mungkin berpikir: “Manakah yang harus aku kerjakan dulu? Apa prioritasnya? Apa aku salah memilih?”
Pikiran kita terus berputar, mencari jawaban yang sempurna. Padahal pertumbuhan tidak pernah tentang kesempurnaan. Terlalu banyak berpikir membuat kita terjebak di tempat, sementara api sebenarnya membutuhkan langkah-langkah kecil dan kongkrit ke depan — bukan pemikiran yang tak berujung.
Kabar baiknya: kamu tidak harus menghadapi ketiga hal tersebut sendirian. Cukup mulai dengan satu atau dua langkah kecil di bawah ini.
1. Bangun relasi yang menghidupkan dengan orang-orang yang hidup dari kedalaman
Temukan mereka yang mendengarkan tanpa menghakimi. Bersama mereka, api kita tidak perlu berpura-pura.
2. Temukan kegiatan baru yang selaras dengan diri esensial kita
Jika hakikat diri kita adalah “keberanian”, coba sesuatu yang selama ini kita takuti. Jika “keindahan”, luangkan waktu untuk berkarya. Kegiatan yang selaras terasa seperti pulang ke rumah.
3. Luangkan waktu untuk merasakan kembali hakikat diri kita
Cukup 5–10 menit. Duduklah dalam hening. Tanyakan: “Apakah ia masih di sini?” Inilah obat untuk terlalu banyak berpikir: berhenti memikirkan, mulailah merasakan.
4. Ritual pagi 5 menit sebelum bangun dari tempat tidur
Letakkan satu tangan di dada dan tangan lainnya di perut. Tarik napas, dan bayangkan satu kualitas dari diri hakikat dirimu. Buang napas. Ulangi tiga kali. Ini membangun kembali hubungan dengan hakikat diri yang sempat terputus.
5. Pilih satu lingkungan yang menghidupkan dan kunjungi secara teratur
Bisa berupa sudut bersih di kamarmu, taman terdekat, atau kafe yang sunyi. Api tidak dapat menyala di tempat yang tidak kondusif atau tidak selaras dengan hakikat dirimu.
6. Tulislah “Catatan kecil” setiap kali kamu merasa hidup kembali
Contoh: “Hari ini aku merasa kuat saat berjalan di tengah hujan.” Ini membantu kita mengenali pola-pola yang mendukung api kita, sekaligus mengurangi terlalu banyak berpikir dengan bukti nyata dari kehidupan.
7. Bangun hubungan secara sadar dengan tubuhmu
Setiap kali kamu menyadari bahwa kamu keluar dari dirimu, tidak lagi terhubung dengan kekuatan batinmu, bangunlah hubungan secara sadar dengan tubuhmu. Tubuh adalah jembatan penghubung dengan diri kita di kedalaman. Berdirilah kokoh di tanah dan rasakan nafasmu. Ini akan membantumu langsung terkoneksi dengan dirimu di kedalaman. Ini akan mengubah caramu berfungsi, perilaku batinmu, dan terhubung kembali dengan energi kehidupanmu, hakikat dirimu.
Terputus, melakukannya sendiri, terlalu banyak berpikir – ketiganya adalah bagian alami dari perjalanan pertumbuhan. Bukan karena kamu salah. Tapi karena pertumbuhan perlu dirawat.
Dan kabar baiknya: kamu tidak harus merawatnya sendirian.
Modul lanjutan “Keeping My Flame Alive” (Menjaga Apiku Tetap Menyala) dirancang khusus untuk membantumu:
- Membangun kembali hubungan dengan diri esensialmu (mengatasi keterputusan)
- Berlatih bersama dalam kelompok dengan bimbingan pendamping (mengatasi kecenderungan melakukannya sendiri)
- Berfokus pada pengalaman, bukan analisis yang berlebihan (mengatasi terlalu banyak berpikir)
Dua sesi, masing-masing 3 jam. Bukan workshop besar. Tapi ruang yang aman untuk menjaga apimu agar tidak padam.
Jika apimu mulai terasa redup – atau jika kamu hanya ingin belajar merawatnya dengan lebih sadar – ini adalah undangan untukmu.
Karena apimu itu berharga. Dan kamu layak merawatnya bersama orang lain.
Jadwal berikutnya: “Menjaga Apiku Tetap Menyala” silakan kunjungi website PRH Indonesia.