Reflection of Who I Am…

The Roots of My Self-Image and My Journey toward Autonomy


As I continue my PRH formation, I am becoming more aware that my self-image did not develop without a history. It was gradually shaped through my childhood experiences, especially within my relationship with my mother.

Growing up, my mother played a very dominant role in my life. She had strong expectations about what was right, what was acceptable, and how I should behave. Because there was little room for dialogue, the values and rules my mother taught me became fixed in my mind as absolute truths. Rather than gradually learning to discover myself, make my own choices, and trust my own inner experience, I learned to adapt, to meet expectations, and to seek approval.

Because of this, I slowly built the belief that my value depended on doing the right thing according to external standards instead of recognizing my own deepest reality. I became more attentive to what others expected from me than to what I was truly experiencing within myself.

This history has had a profound impact on my self-image. Instead of naturally trusting my abilities and my deepest gifts, I developed the habit of questioning myself. I often look outside myself for confirmation before trusting my own judgment. Even when I sense something deeply within, I can hesitate because I fear that my perception may not be correct.

My relationship with my mother also influenced my level of autonomy. Although I became a responsible and committed adult, internally I often remained dependent on external approval. I found it difficult to separate my own convictions from the expectations that had been internalized during my upbringing. Sometimes I obeyed these inner "voices" without realizing they were inherited norms rather than expressions of my deepest being.

This limited my freedom to become fully myself. Instead of asking, "What is truly alive in me?" I often asked, "What should I do?" or "What will others think?" As a result, I could neglect my own needs, underestimate my own gifts, and doubt my own capacity to make decisions.

Comparison also became part of this functioning. Because I had learned to measure myself against external standards, I often measured myself against other people. Their strengths became evidence of my inadequacy instead of reminders that every person has unique gifts. This reinforced my negative self-image and made it difficult to appreciate who I truly am.

Through PRH, I am discovering that becoming autonomous does not mean rejecting my mother or denying the values she wanted to transmit. Many of those values have helped shape the responsible and committed person I am today. Rather, autonomy means becoming free enough to integrate what is life-giving, let go of what limits my growth, and make choices that arise from my deepest being rather than from fear or the need for approval.

Today, I recognize that my negative self-image is not my identity. It is a functioning that developed through my history. By understanding its roots, I no longer need to remain imprisoned by it.

I am learning to trust my deepest sensations, to recognize the gifts that already exist within me, and to make decisions from inner freedom. My journey toward autonomy is allowing me to move from living according to internalized expectations to living according to the truth of who I am.

As a PRH Professional, this awareness has become a precious gift. Because I have experienced how family history and early relationships can shape a person's functioning, I can accompany others with greater compassion and hope. I believe that every person has the capacity to move beyond limiting functioning and discover the freedom of their deepest being. This is also the path I continue to walk.

Notes:

This reflection is consistent with PRH's understanding of self-image, autonomy, and the influence of early relationships. It acknowledges the impact of parent's style of upbringing while avoiding reducing the current functioning to a single cause or portraying parent in a simplistic way. It also reflects an important PRH insight: understanding the history is meant to support freedom and growth, not to assign blame.

Go finding your true self through PRH Workshop “Who Am I”!


Refleksi tentang Siapa Saya…

Akar Pembentukan Citra Diri dan Perjalanan Menuju Otonomi


Seiring saya melanjutkan proses pembinaan di PRH, saya semakin menyadari bahwa citra diri saya tidak terbentuk begitu saja. Citra diri itu dibentuk sedikit demi sedikit melalui pengalaman masa kecil saya, terutama dalam hubungan saya dengan ibu.

Sejak kecil, ibu memiliki peran yang sangat dominan dalam hidup saya. Beliau memiliki harapan yang kuat tentang apa yang benar, apa yang baik, dan bagaimana saya seharusnya bersikap. Nilai-nilai dan norma yang beliau tanamkan tanpa komunikasi dua arah sehingga segala ajarannya menjadi sangat melekat dalam diri saya secara mutlak. Akibatnya, saya tidak banyak belajar untuk mengenal diri sendiri, membuat pilihan berdasarkan diri saya sendiri, atau mempercayai apa yang saya rasakan dari dalam. Sebaliknya, saya belajar untuk menyesuaikan diri, memenuhi harapan orang lain, dan mencari penerimaan.

Karena pengalaman itu, saya perlahan percaya bahwa nilai diri saya bergantung pada apakah saya melakukan hal yang benar menurut standar orang lain, bukan pada mengenali siapa diri saya yang sesungguhnya. Saya menjadi lebih peka terhadap apa yang diharapkan orang lain daripada terhadap apa yang benar-benar hidup di dalam diri saya.

Pengalaman ini sangat memengaruhi cara saya memandang diri sendiri. Saya sulit mempercayai kemampuan dan anugerah yang ada dalam diri saya. Saya terbiasa meragukan diri sendiri. Saya sering mencari pengakuan atau kepastian dari luar sebelum berani mempercayai penilaian saya sendiri. Bahkan ketika saya merasakan sesuatu yang sangat mendalam dalam diri saya, saya masih ragu karena takut apa yang saya rasakan itu salah.

Hubungan saya dengan ibu juga memengaruhi tingkat otonomi saya. Walaupun saya tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan memiliki komitmen, di dalam diri, saya masih sering bergantung pada persetujuan dan penilaian orang lain. Saya sulit membedakan mana keyakinan saya sendiri dan mana harapan atau aturan yang sudah tertanam sejak saya kecil. Kadang-kadang saya mengikuti "suara-suara" itu tanpa menyadari bahwa itu adalah norma yang saya warisi, bukan suara dari diri saya yang terdalam.

Akibatnya, kebebasan saya untuk menjadi diri sendiri menjadi terbatas. Daripada bertanya, "Apa yang sungguh hidup di dalam diri saya?", saya lebih sering bertanya, "Apa yang seharusnya saya lakukan?" atau "Apa kata orang nanti?" Akibatnya, saya sering mengabaikan kebutuhan saya sendiri, meremehkan anugerah yang saya miliki, dan meragukan kemampuan saya dalam mengambil keputusan.

Kebiasaan membandingkan diri juga menjadi bagian dari cara kerja ini. Karena sejak kecil saya terbiasa menilai diri berdasarkan standar dari luar, saya juga sering membandingkan diri dengan orang lain. Kelebihan orang lain justru menjadi bukti bahwa saya kurang baik, bukan menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki anugerah yang berbeda. Hal ini semakin memperkuat citra diri negatif saya dan membuat saya semakin sulit menghargai siapa diri saya sebenarnya.

Melalui PRH, saya mulai memahami bahwa menjadi pribadi yang otonom bukan berarti menolak ibu atau mengabaikan nilai-nilai yang beliau ajarkan. Banyak nilai yang beliau tanamkan justru membentuk saya menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan memiliki komitmen seperti sekarang. Otonomi berarti saya semakin bebas untuk memilih nilai-nilai yang memberi kehidupan, melepaskan hal-hal yang menghambat pertumbuhan saya, dan membuat keputusan berdasarkan diri saya yang terdalam, bukan karena rasa takut atau keinginan untuk mendapatkan persetujuan orang lain.

Hari ini saya menyadari bahwa citra diri negatif bukanlah identitas saya. Itu adalah suatu cara kerja (functioning) yang terbentuk dari sejarah hidup saya. Dengan memahami asal-usulnya, saya tidak lagi harus terus hidup di bawah pengaruhnya.

Sekarang saya sedang belajar mempercayai sensasi terdalam saya, mengenali anugerah-anugerah yang sudah ada dalam diri saya, dan mengambil keputusan dengan lebih bebas dari dalam diri saya sendiri. Perjalanan menuju otonomi ini membantu saya beralih dari hidup berdasarkan harapan yang sudah tertanam dalam diri saya menuju hidup berdasarkan kebenaran tentang siapa diri saya sebenarnya.

Sebagai seorang Profesional PRH, kesadaran ini menjadi hadiah yang sangat berharga. Karena saya mengalami sendiri bagaimana sejarah keluarga dan hubungan sejak masa kecil dapat membentuk cara kerja seseorang, saya dapat mendampingi orang lain dengan belas kasih, pengertian, dan harapan yang lebih besar. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk melampaui cara kerja yang membatasi dirinya dan menemukan kebebasan dari diri terdalamnya. Itulah juga jalan yang terus saya jalani.

Catatan dari penulis

Refleksi ini sejalan dengan pemahaman PRH mengenai citra diri, otonomi, dan pengaruh hubungan-hubungan awal dalam kehidupan seseorang. Refleksi ini mengakui bahwa pola pengasuhan orang tua memiliki pengaruh terhadap perkembangan diri, tanpa menyederhanakan penyebabnya hanya pada satu faktor atau menyalahkan orang tua. Dalam PRH, memahami sejarah hidup bukan bertujuan mencari siapa yang salah, melainkan membantu seseorang bertumbuh, menjadi lebih bebas, dan semakin hidup sesuai dengan diri terdalamnya.

Mari menemukan jati diri Anda melalui Workshop PRH "Who Am I"!


Written By Nana